Monday, January 22, 2007

Chopard..........


Saya teringat beberapa tahun yang lalu, Kompas Minggu memuat putrinya Sudwikatmono baru saja membeli jam tangan merek Chopard. Saya tidak tahu apa modelnya seperti yang di samping kiri ini, atau yang di samping kanan, atau model yang lain. Di situ juga diberitakan harga dari jam tangan Chopard itu, yang saya sudah lupa persisnya berapa.

Waktu itu saya ingat sekali membaca korannya di beranda depan rumah saya. Saya lalu melakukan perhitungan matematis antara harga jam tangan itu dengan harga rumah saya. Kalau tidak salah, rumah saya itu harganya sepersepuluh jam tangan itu. Maka waktu itu dengan sangat kagum saya menyimpulkan, bahwa sepotong jam tangan di dunia ini bisa ditukar dengan 10 rumah di kompleks saya yang notabene adalah kompleks kelas menengah di kota Yogya.

Tahun 2004 karena tugas, saya mendapat kesempatan melakukan perjalanan dari Medan, Pematang Siantar, Prapat, Porsea, Siborong-borong, Tarutung, Sibolga, Padang Sidimpuan. Perjalanan yang sangat menyenangkan. Pemandangan di luar jendela mobil luar biasa, terutama ketika melewati Prapat dan menyaksikan danau Toba di sisi kanan.

Tapi sepanjang jalan itu pemandangan juga menyedihkan karena kemiskinan terpampang senyatanya. Perlu diingat, Sumatera Utara bukan provinsi yang miskin. Walaupun demikian, toh pemandangan di luar jendela mobil tetap menyedihkan, terutama antara Sibolga - Padang Sidimpuan. Rumah-rumah kumuh dari kayu seadanya nyaris roboh terlihat sepanjang jalan, anak-anak yang sama kumuhnya dengan rumah mereka, duduk ngelesot di tanah, mengosek-osek tanah............... mengingatkan saya pada sesuatu.

Suami saya adalah penggemar fanatik ayam Bangkok. Halaman belakang rumah saya nyaris tidak bisa dihias sama sekali karena digunakan sebagai kandang ayam dan tempat mengumbar dan melatih ayam-ayam Bangkok itu. Ketika ayam betina diumbar di halaman, mereka senang ngelesot mengosek-osek tanah dan duduk di tengahnya. Anak-anak di Padang Sidimpuan itu (maaf) mirip dengan ayam-ayam betina itu sedangkan rumah mereka (maaf) mirip dengan kandang ayam di belakang rumah saya.

Oh Tuhan, ampuni hambaMu karena telah melakukan analogi-analogi ini. Tapi saya tidak dapat menahan diri untuk tidak melakukannya. Ada manusia yang rumahnya seperti kandang ayam di belakang rumah saya, ada juga manusia yang jam tangannya seharga 10 rumah di kompleks saya.

Senyatanya memang tragis..............

5 comments:

Herman Saksono said...

Senyatanya memang gap itu wajar, dan tidak perlu dipermasalahnya. Yang wajib kita urusi adalah bagaimana yang di bawah itu hidupnya bisa layak, tidak seperti ayam.

-tikabanget- said...

^_^


saya pengen nyumbang jam tangan sayah..
tapi kok ya harganya ndak ada apa apanya ya..

Mimit said...

Tidak semua seperti yang kita pikir. Mungkin kita tidak perlu merasa pitty pada yang miskin. Menjadi kaya tidak selalu bahagia, sementara menjadi miskin tidak selalu tidak bahagia.

Bisa saja si anak kecil yang hidup seperti ayam itu lebih bahagia daripada si pemilik jam seharga 10 rumah. Ini karena si anak pintar bersyukur. Bersyukur tidak selamanya karena ibadah, tetapi karena dia memang merasa senang saja akan hidupnya walaupun kondisi perekonomiannya menyedihkan. Dia mampu menghibur diri sendiri, gampang bahagia, gampang puas akan keadaan, dan tidak memiliki keinginan yang berlebih. Sebaliknya, walopun jam tangannya seharga 10 rumah dan memiliki kekayaan lainnya, namun dia tidak pernah merasa bahagia dan tidak mampu menghibur diri sendiri, bukan tidak mungkin, dia hidup lebih sengsara dibanding si anak yang hidup seperti ayam itu tadi.

Seperti yang pernah Ibu saya katakan pada saya, kita hidup jangan tergantung pada orang lain, media duniawi, atau situasi yang sedang terjadi, namun tergantung pada diri sendiri. Kita harus memiliki kemampuan membuat diri sendiri bahagia tanpa dibantu oleh siapapun atau apapun.

Walaupun saya bisa mengatakan begini, tetap saja saya belum bisa mempraktekannya. Namun sedang berusaha. :)

Noor Rahmani said...

Herman: Bener juga yah? Saya senang memikirkan nanti kalau saya mati dan menghadapNya, saya punya banyak pertanyaan antara lain tentang ini.

Tikabanget: Nyumbang pemikiran ajah deh Tik. Saya sering baca tulisanmu en mnrtku u thougtful lho.... cool deh........

Mimit: hmmm..... Alangkah bahagianya orang yang menjadi ibumu itu ya... punya anak seperti kamu.

Madeleine said...

Mbak Noor, ini saya si Parikesit modern ingin memberi komentar.

Yang membuat orang menjadi seperti si Sudwikadmono atau Probosutedjo yg kaya raya tanpa mengacuhkan yg lain miskin melarat, ataupun si Tukicir nan miskin di negara Antah Berantah, sebenarnya ialah system. Baik system kenegaraan maupun system pendidikan disekolah-rumah tangga maupun lingkungan.

Komunis sudah lenyap sebagai system kenegaraan. Komunisme punya banyak masalah. Tapi ada satu hal "noble" yg diinginkan komunis : Persamaan hak semua manusia.
Dinegara komunis tidak ada Sudwikatmommo ataupun Probosutejo yg berasal dari sopir truck kemudian bisa jadi maha kaya raya dengan waktu relative singkat hanya karena kakaknya president.
Bagaimana mengubah system dinegara kita yg sudah begitu rusaknya ?
Barangkali ada yg bisa memberi theory bagus yg bisa dijalankan secara effective ?