Monday, January 22, 2007

Pesugihan


Mbak Umi, yang bekerja membantu saya di rumah kami, orangnya cantik berasal dari Temanggung. Suaminya penjual bakmi keliling, yang...sumpe dech, nasi gorengnya lumayan enak dan sering dipesan kantor saya untuk hidangan rapat. Mbak Umi adalah guru saya. Banyak sekali yang saya pelajari dari beliau, sisis kehidupan dan pola pikir yang tak terduga.

Suatu hari ketika saya sedang ngetik sesuatu di komputer saya ini, mbak Umi masuk ke ruangan hendak mengepel lantai. Maka mulailah ia bercerita tentang warung makan dekat rumah saya yang sangat laris. Mungkin terlaris di kawasan saya tinggal. Mendengar itu, otomatis saya langsung memaknai larisnya warung itu sebagai keberhasilan sang pemilik menciptakan produk yang diminati pasar (dalam hal ini pasar mahasiswa, karena rumah kami berada di perkampungan mahasiswa). Saya menduga, value added warungnya adalah harga murah, rasa enak dan pelayanan ramah.

Tapi, sambil terus mengepel lantai mbak Umi mengatakan bahwa keberhasilan warung itu karena dukun. Banyak tumbal yang harus dibayar pemilik warung, seperti anaknya yang sakit dan ada yang meninggal. Bahkan para pelayan warungpun tidak mau makan dari warung itu, karena takut akan dijadikan tumbal juga.

Saya terhenyak. Di perkampungan kami yang sarat mahasiswa dan dosen-dosen UGM dan UNY, bahkan Menteri Pendidikan Nasional-pun tinggal di sini, kepercayaan pada pesugihan masih marak. Bukan pada diri mbak Umi seorang saja lho, karena cerita ini sudah marak di kampung. Lalu bagaimana di pelosok yang jauh dari pusat pendidikan?

Haruskah saya merasa jengkel karena fanatisme saya pada rasio mendapat tantangan begini berat? Gregeten saya!

Tapi guru saya mbak Umi adalah karunia Allah yang tak terduga. Dia juga keajaibanNya. Blog ini pastinya masih akan memuat ilmu kehidupan dari guru saya itu.

2 comments:

mimit said...

Saya ndak ngerti. Kenapa Mbak Umi disebut sebagai guru? Bukan meremehkan, tapi apa jasa Mbak Umi sehingga disebut sebagai guru? Apakah karena dia yang memberikan informasi2 menarik itu?

Noor Rahmani said...

Ketika kita bisa belajar sesuatu dari seseorang, kita sebut dia guru. Lebih-lebih ketika orang itu - sengaja atau tidak sengaja - menunjukkan kepada kita sesuatu hal yang penting, yang tidak kita ketahui sama sekali. Jadi guru tidak mesti orang yang aktif mengajar.